Minggu, 10 Mei 2015

Orang Kampus I

| | 0 komentar
             

             Nama ku Parikesit, entah kenapa orang tua ku memberikan nama itu. Aku laki-laki tulen yang lahir disebuah daerah pinggiran ibu kota repubilik ini, atau biasa disebut jakarta coret atau bekasi. Kata ayahku nama ku itu sakral karena diambil dari nama tokoh pewayangan Parikesit, yang merupakan anak dari Abimanyu dan cucu dari Arjuna. Tak disangka betapa terherannya aku, karena menurut buku yang ku baca tokoh-tokoh pewayangan itu terkenal sakti dan bijaksana.

           Belum genap dua puluh tahun usia ku, bapak sudah pergi meninggalkan dunia lebih dulu. Tepatnya sewaktu aku baru tiga bulan masuk perguruan tinggi. Entah kenapa aku langsung terpikir dengan cerita tokoh wayang Parikesit yang ditinggal ayahnya Abimanyu dalam peperangan. Sekejab aku berfikir betapa bodohnya bapak menamaiku Parikesit hanya karena penggila maniak kesenian wayang.
            Datang dari kota pinggiran ke kota yogyakarta untuk melanjutkan studi diperguruan tinggi seni negeri yang lumayan tersohor diselatan bumi mataram yang katanya istimewa dengan sistem monarki pada pemerintahannya. Pertama kuliah aku jarang mengenal teman ku sekelas, karena aku lebih senang bergaul bersama teman di luar kelasku. Sangat jarang aku bisa berada di fakultas ku sendiri, entah makan atau sekedar lontang lantung. Entah apa karena saat itu posisi ku masih junior yang dengan penampilan kulit hitam pekat, mata tajam, dan berkumis. Tidak tau apa senior-senior tau kalo aku junior. Yang ku tau kampus ini mengajarkan dan menghantam junior-juniornya ketika ospek. Tidak tau kenapa banyak yang tidak kuat, sebenarnya aku merasa biasa-biasa saja karena ospek ku di STM atau sekarang SMK lebih menyakitkan.

            Ketika angkatanku hendak berpameran perdana aku terpaksa tidak bisa ikut dan memasan tiket pesawat karena ibu menghubungi aku utuk pulang, bapak sudah lebih empat hari tidak sadarkan diri dirumah sakit bekasi. Awalnya aku menolak karena ingin bersama teman-teman mempersiapkan pameran. Tapi temanku Gatot cepat-cepat menyuruhku pulang.

"Kamu harus pulang bro, jenguk bapakmu!"
"tapi aku bingung aku harus kemana?"
"Yo tuku tiket pesawat seng cedak (dekat) karo kampus."
Tanpa berpamitan dengan teman lainnya aku langsung bergegas membeli tiket pesawat di agen penerbangan dekat kampus. Dan tepat jam empat sore pesawatku terbang ke jakarta dan naik taksi untuk menuju jakarta coret.

            Ada memori tersendiri ketika aku pertama kenal dan berteman dengan teman ku Gatot. Pertama kenal di kelas orangnya tinggi besar gagah berani sama persis dengan tokoh Gatot Koco pikirku. Entah kenapa aku diawal kuliah sangat dekat dengannya, dari keluar pagi hingga pulang kembali pagi hanya bersama temanku ini. Menjadi saksi betapa perjuangannya mencari cinta sejati dari seorang wanita yang dipujanya. Apa karena temanku ini lahir dikota yang sama dengan bapak di kota kretek. Saking dekatnya aku pernah mudik ke kota kretek dengan Gatot membawa motor ompong dengan perjalanan hingga lima jam. Ketika sampai dirumahnya aku disambut dengan hamparan sawah hijau jernih, dan rumah bertingkat bearsitektur gaya-gaya ibu kota dan disebelahnya terdapat toko mebel yang ternyata usaha milik keluarga.

"Silahkan masuk, aku siapkan teh untuk menghilangkan rasa capek kalian."
Sapa ibu Gatot dalam bahasa jawa kromo.
Jawab ku dengan sopan.
"Iya bu terimakasih"

Jujur aku anak keturunan jawa tapi sangat kesulitan dalam berbahasa jawa apa lagi jawa kromo. Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu suka dengan budaya jawa yang selalu menunduk jika bertemu dengan orang berpangkat tinggi yang sebenarnya usianya lebih muda. Dan budaya jawalah yang mempermudah para penjajah dulu masuk ke Nusantara. Yang paling tak ku suka budaya yang katanya istimewa ditempat ku menimba ilmu dengan rakyatnya yang selalu tunduk pada rajanya apapun keputusannya. Apa lagi dengan negeri ini yang selalu dipimpin dengan orang etnis jawa. Apa negara ku penganut Feodalisme?

            Ketika didalam rumah Gatot aku terkesimak melihat benda-benda koleksi keluarganya, guci-guci lukisan dan mobil kuno. Kedekatan ku dengan Gatot cukup lama, sebelum dia jatuh sakit karena kecelakaan parah yang membuatnya lama tidak kuliah. Hal yang paling tidak bisa dilupakan saat aku dan Gatot bersiap untuk pergi main, dan dengan terburu-buru tali tas yang digunakan Gatot terlepas dan tas tersebut jatuh diatas tanah.
"Bro didalam tas ku ada kameranya." Ucapnya dalam logat kota kretek.
"wah coba dicek dulu tot nanti kenapa-kenapa." Balasku
"Gak usahlah kita langsung aja."
Seharian kita tidak mengecek apa yang terjadi dengan kamera si Gatot. Keesokkan harinya dengan mukanya yang tidak pernah sedih mengadu,
"Bro kamera ku remuk, ini ku lakban, hahaha." Ucapnya sambil tertawa sangat keras dan sedangkan aku meringis kasihan dan tak tega dengan kameranya.

            Persahabatanku dengan Gatot kian lama kian jarang kami bertemu karena saat itu aku sudah memiliki kekasih baru. Dan dia masih menjomblo tetapi berjuang untuk mendapatkan cinta seorang gadis dari jawa barat yang manis dan cantik menurutnya. Menjadi saksi aku dibuatnya, disaat dia membelikan bunga mawar hingga dia hafal betul jenis-jenisnya. Dan meninggalkan ku di kamar kosnya bersama teman ku satunya hanya untuk berkencan dengan gadis itu. Tapi sayang Gatot gagal menggaet gadis itu untuk menjadi pendampingnya. Aku melihat perubahan sifat dan sikapnya sehari-hari. Seperti tidak ada semangat hidup, sangat berbeda saat dulu pertama mulai kuliah betapa gesitnya dia. Kurun waktu aku lelah menanggapi curhatannya tentang gadis pujaannya, aku sudah sering ingatkan dia. Hingga saat itu sampai sekarang aku sudah sangat jarang berkomunikasi dengannya bahkan bertemu. Aku sangat tau mungkin dia tak akan suka jika aku mengungkit masalahnya dengan gadis itu. Tapi aku sebagai manusia dan tugas ku menjadi manusia sama seperti kata Multatuli, aku hanya mengingatkan supaya dia tidak kembali jatuh kedalam masalah yang sama. Dan mungkin menurutnya cerita ku tidak benar dan sok tau, tapi aku hanya melihat yang terjadi dan menuliskan kedalam cerita dengan nama aslinya yang tidak ku sebutkan.


Bantul, 10 Mei 2015



Yogyakarta 2015. Dimas Parikesit

0 komentar:

Posting Komentar

 
Twitter Facebook Dribbble Tumblr Last FM Flickr Behance