Belum genap dua puluh tahun usia ku,
bapak sudah pergi meninggalkan dunia lebih dulu. Tepatnya sewaktu aku baru tiga
bulan masuk perguruan tinggi. Entah kenapa aku langsung terpikir dengan cerita
tokoh wayang Parikesit yang ditinggal ayahnya Abimanyu dalam peperangan.
Sekejab aku berfikir betapa bodohnya bapak menamaiku Parikesit hanya karena
penggila maniak kesenian wayang.
Datang dari kota pinggiran ke kota
yogyakarta untuk melanjutkan studi diperguruan tinggi seni negeri yang lumayan
tersohor diselatan bumi mataram yang katanya istimewa dengan sistem monarki
pada pemerintahannya. Pertama kuliah aku jarang mengenal teman ku sekelas, karena
aku lebih senang bergaul bersama teman di luar kelasku. Sangat jarang aku bisa
berada di fakultas ku sendiri, entah makan atau sekedar lontang lantung. Entah
apa karena saat itu posisi ku masih junior yang dengan penampilan kulit hitam
pekat, mata tajam, dan berkumis. Tidak tau apa senior-senior tau kalo aku
junior. Yang ku tau kampus ini mengajarkan dan menghantam junior-juniornya
ketika ospek. Tidak tau kenapa banyak yang tidak kuat, sebenarnya aku merasa
biasa-biasa saja karena ospek ku di STM atau sekarang SMK lebih menyakitkan.
Ketika angkatanku hendak berpameran
perdana aku terpaksa tidak bisa ikut dan memasan tiket pesawat karena ibu
menghubungi aku utuk pulang, bapak sudah lebih empat hari tidak sadarkan diri
dirumah sakit bekasi. Awalnya aku menolak karena ingin bersama teman-teman
mempersiapkan pameran. Tapi temanku Gatot cepat-cepat menyuruhku pulang.
"Kamu
harus pulang bro, jenguk bapakmu!"
"tapi
aku bingung aku harus kemana?"
"Yo
tuku tiket pesawat seng cedak (dekat) karo kampus."
Tanpa
berpamitan dengan teman lainnya aku langsung bergegas membeli tiket pesawat di
agen penerbangan dekat kampus. Dan tepat jam empat sore pesawatku terbang ke
jakarta dan naik taksi untuk menuju jakarta coret.
Ada memori tersendiri ketika aku
pertama kenal dan berteman dengan teman ku Gatot. Pertama kenal di kelas
orangnya tinggi besar gagah berani sama persis dengan tokoh Gatot Koco pikirku.
Entah kenapa aku diawal kuliah sangat dekat dengannya, dari keluar pagi hingga
pulang kembali pagi hanya bersama temanku ini. Menjadi saksi betapa
perjuangannya mencari cinta sejati dari seorang wanita yang dipujanya. Apa
karena temanku ini lahir dikota yang sama dengan bapak di kota kretek. Saking
dekatnya aku pernah mudik ke kota kretek dengan Gatot membawa motor ompong
dengan perjalanan hingga lima jam. Ketika sampai dirumahnya aku disambut dengan
hamparan sawah hijau jernih, dan rumah bertingkat bearsitektur gaya-gaya ibu
kota dan disebelahnya terdapat toko mebel yang ternyata usaha milik keluarga.
"Silahkan
masuk, aku siapkan teh untuk menghilangkan rasa capek kalian."
Sapa ibu Gatot dalam bahasa jawa kromo.
Jawab ku dengan sopan.
Sapa ibu Gatot dalam bahasa jawa kromo.
Jawab ku dengan sopan.
"Iya bu terimakasih"
Jujur
aku anak keturunan jawa tapi sangat kesulitan dalam berbahasa jawa apa lagi
jawa kromo. Dan sebenarnya aku juga tidak terlalu suka dengan budaya jawa yang
selalu menunduk jika bertemu dengan orang berpangkat tinggi yang sebenarnya
usianya lebih muda. Dan budaya jawalah yang mempermudah para penjajah dulu
masuk ke Nusantara. Yang paling tak ku suka budaya yang katanya istimewa
ditempat ku menimba ilmu dengan rakyatnya yang selalu tunduk pada rajanya
apapun keputusannya. Apa lagi dengan negeri ini yang selalu dipimpin dengan
orang etnis jawa. Apa negara ku penganut Feodalisme?
Ketika didalam rumah Gatot aku
terkesimak melihat benda-benda koleksi keluarganya, guci-guci lukisan dan mobil
kuno. Kedekatan ku dengan Gatot cukup lama, sebelum dia jatuh sakit karena
kecelakaan parah yang membuatnya lama tidak kuliah. Hal yang paling tidak bisa
dilupakan saat aku dan Gatot bersiap untuk pergi main, dan dengan terburu-buru
tali tas yang digunakan Gatot terlepas dan tas tersebut jatuh diatas tanah.
"Bro
didalam tas ku ada kameranya." Ucapnya dalam logat kota kretek.
"wah
coba dicek dulu tot nanti kenapa-kenapa." Balasku
"Gak
usahlah kita langsung aja."
Seharian
kita tidak mengecek apa yang terjadi dengan kamera si Gatot. Keesokkan harinya
dengan mukanya yang tidak pernah sedih mengadu,
"Bro
kamera ku remuk, ini ku lakban, hahaha." Ucapnya sambil tertawa sangat
keras dan sedangkan aku meringis kasihan dan tak tega dengan kameranya.
Persahabatanku dengan Gatot kian lama
kian jarang kami bertemu karena saat itu aku sudah memiliki kekasih baru. Dan
dia masih menjomblo tetapi berjuang untuk mendapatkan cinta seorang gadis dari
jawa barat yang manis dan cantik menurutnya. Menjadi saksi aku dibuatnya,
disaat dia membelikan bunga mawar hingga dia hafal betul jenis-jenisnya. Dan
meninggalkan ku di kamar kosnya bersama teman ku satunya hanya untuk berkencan
dengan gadis itu. Tapi sayang Gatot gagal menggaet gadis itu untuk menjadi
pendampingnya. Aku melihat perubahan sifat dan sikapnya sehari-hari. Seperti
tidak ada semangat hidup, sangat berbeda saat dulu pertama mulai kuliah betapa
gesitnya dia. Kurun waktu aku lelah menanggapi curhatannya tentang gadis
pujaannya, aku sudah sering ingatkan dia. Hingga saat itu sampai sekarang aku
sudah sangat jarang berkomunikasi dengannya bahkan bertemu. Aku sangat tau
mungkin dia tak akan suka jika aku mengungkit masalahnya dengan gadis itu. Tapi
aku sebagai manusia dan tugas ku menjadi manusia sama seperti kata Multatuli,
aku hanya mengingatkan supaya dia tidak kembali jatuh kedalam masalah yang
sama. Dan mungkin menurutnya cerita ku tidak benar dan sok tau, tapi aku hanya
melihat yang terjadi dan menuliskan kedalam cerita dengan nama aslinya yang
tidak ku sebutkan.
Bantul,
10 Mei 2015
Yogyakarta 2015. Dimas Parikesit

0 komentar:
Posting Komentar